dongkel

Statistik Blog

  • 350,625 hit

Pencapaian Blog

The Big DayMaret 26th, 2016
The big day is here.

AYAT TENTANG PERNIKAHAN

quran-30-21-and-among-his-signs1-1

 

  1. Surat An-Nisa’ Ayat 3

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

  1. Asbabun Nuzul

Sebab turunnya ayat ini telah disebutkan dalam periwayatan imam al-Bukhori dari ‘Urwah bin al-Zubair bahwa ia bertanya kepada ‘Aisyah mengenai firman Allah(وَإِن خِفتُم أَلّا تُقسِطوا في اليتامى) maka ‘Aisyah menjawab: wahai anak saudariku, sesungguhnya anak perempuan yatim ini berada dalam ampuan walinya, ia menggabungkan hartanya dengan harta walinya. Walinya pun tertarik kepada hartanya dan keelokan rupanya, sehingga ia ingin menikahinya tanpa berbuat adil dalam memberikan maharnya, sehingga ia memberikan kepada yatimah tersebut mahar yang sepadan dengan mahar yang diberikan orang lain kepada yatimah tersebut. Maka mereka dilarang untuk melakukannya kecuali mereka berbuat adil kepada anak-anak yatimah itu, dan memberikan mahar mereka lebih banyak. Para wali itu pun diperintah untuk menikahi wanita-wanita yang halal mereka nikahi selain anak-anak yatimah tersebut. Dan sesungguhnya orang-orang meminta fatwa kepada Rosululloh shollAllahu ‘alayhi wa sallama setelah turunnya ayat ini, maka Allah menurunkan ayat 127 dari surat an-Nisa’ : {ويستفتونك في النساء قل الله يفتيكم فيهن وما يتلى عليكم في الكتاب في يتامى النساء}.[1]

  1. Munasabah

Ayat ini merupakan ayat pertengahan yang menghubungkan antara ayat 2 yang menerangkan tentang harta anak yatim dan 4 yang menerangkan tentang mahar nikah. Dalam ayat ini terdapat penyebutan اليتامى (anak yatim) dan نكاح النساء (menikahi wanita). Adapun bentuk munasabahnya adalah bahwa anak yatim dan wanita disamakan dalam hal sifat lemah mereka. Dan di sisi lain adalah karena ayat ini turun sebab ada seorang wali yang ingin menikahi wanita yatim yang berada dalam ampuannya tanpa ingin berbuat adil kepadanya dalam memberikan mahar.[2] Ayat ini dan ayat sesudahnya pun sama-sama membicarakan solusi berumah tangga yang damai baik dalam hal jumlah istri maupun adab memakan harta mahar.

  1. Tafsir ayat

خفتم : makna asal dari ayat ini adalah takut. Sedangkan hal yang ditakutkan itu adakalanya sudah diketahui sebelumnya, dan terkadang belum diketahui. Inilah yang menjadi sebab ikhtilaf ulama’ dalam memahami apa makna yang dimaksudkan sebenarnya. Abu ‘Abidah berpendapat bahwa makna kata ini adalah ‘kalian yakin’, sedangkan para ulama’ lain mengatakan bahwa maknanya adalah ‘kalian mengira’. Imam al-Hadzdzaq menjelaskan bahwa kata خفتم dalam pembahasan ini adalah berarti mengira, bukan yakin. Adapun makna ayat ini adalah ‘barang siapa yang dalam perkiraannya tidak akan dapat berbuat adil kepada seorang yatim, hendaknya ia meninggalkannya dan menikahi wanita lain.’[3]

تقسطوا : mengikuti fi’il madli أقسط dan mempunyai makna adil. Sesuai dengan hadits Nabi : المقسطون في الدنيا على منابر من لؤلؤ يوم القيامة. Jika mengikuti wazan قسط, maka maknanya adalah dholim. Sebagaimana yang terdapat dalam ayat: وأما القاسطون فكانوا لجهنم حطبا. Sehingga Muhammad Ali Ash-Shobuni memberikan rumusan bahwa jika berbina’ ruba’i maka artinya adalah adil dan jika mengikuti bina’ tsulatsi maka berarti dholim.[4] Tapi rumus ini tidak berlaku secara mutlak, karena ternyata ada lafadz قسط berbina’ tsulatsi yang juga berarti adil. Salah satu contohnya adalah seperti dalam hadits berikut:

سيملك الناس رجل يواطئ اسمه اسمي واسم أبيه اسم أبي فيملأ الأرض قسطا وعدلا كما ملئت جورا وظلما

Imam an-Nakh’i dan ibnu Watsab membaca dengan memfathahkan ta’, menjadi تَقْسُطُوْا dan berarti berbuat dholim. Qiroat yang mengartikannya dengan berbuat dholim ini mentaqdirkan adanya tambahan لا di depannya menjadi وإن خفتم ألا لاتقسطوا atau sama dengan وإن خفتم أن تقسطوا (jika kalian takut akan berbuat dholim). Az-Zajjaj mengatakan bahwa أقسط digunakan dengan menggunakan sebagaimana penggunaan قسط (dholim). Tetapi yang terkenal di kalangan ahli bahasa, arti dari أقسط adalah adil dan قسط berarti dholim.[5]

اليتامى : mengenai kata ini, ‘Aisyah memberikan keterangan sebagaimana yang telah tertuturkan dalam asbabun nuzul ayat ini. Ayat yang turun setelah turunnya ayat ini adalah ayat {ويستفتونك في النساء قل الله يفتيكم فيهن وما يتلى عليكم في الكتاب في يتامى النساء}. Ayat ini berhubungan dengan ayat (وَإِن خِفتُم أَلّا تُقسِطوا في اليتامى). Hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan اليتامى adalah perempuan yatim yang telah dewasa, bukan anak yatim yang masih kecil karena yatim yang masih kanak-kanak tidak menyandang gelar النساء. Mengenai hal ini, terdapat 2 tanggapan. Pertama, kata اليتامى pada ayat 3 ini adalah anak perempuan yatim kecil. Karena istilah اليتامى seperti yang dikategorikan oleh Rosululloh shollAllahu ‘alayhi wa sallama adalah anak yang belum mencapai baligh. Dan adanya pemalingan pembahasan dari makna hakikatnya dalam suatu ayat harus disertai dengan sebuah dalil/petunjuk. Dan adapun kata النساء menurut qoul pertama ini adalah sebagai isim jenis, kata yang menunjukkan jenis. Sehingga, wanita yatim baik yang kecil maupun yang dewasa pun termasuk dalam kata النساء. Kedua, ta’wil yang disampaikan oleh ibn Abbas dan ‘Aisyah ini tidak patut jika ditujukan kepada perempuan yatim dewasa. Karena perempuan yang telah dewasa itu, jika ia rela untuk menikah dengan mahar yang lebih kecil dari mahar mitsilnya, maka nikahnya adalah sah. Tidak ada satupun ulama’ yang menentangnya. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa maksud dari ayat di atas adalah anak perempuan yatim kecil yang masih dalam ampuan walinya.[6]

ما طاب لكم من النساء : menurut al-Jalalain, ما bermakna من .[7] Sedangkan al-Farro’ mengatakan bahwa kata ما طاب dimaksudkan sebagai mashdar. Seakan-akan artinya adalah menikahlah dengan wanita yang baik atau halal. Oleh karena itu, beliau mengatakan bahwa boleh menggunakan ما طاب , bukan من. Mujahid berpendapat bahwa makna ayat ini adalah انكحوا نكاحا طَيِّباً, menikahlah dengan baik. Sedangkan penafsiran dari ‘Aisyah, al-Hasan, dan Abi Malik adalah wanita yang halal.[8]

{ مثنى وثلاث وَرُبَاعَ } : ulama’ ahli bahasa bersepakat bahwa ini adalah kata bilangan yang berarti jumlah bilangan itu sendiri, yaitu 2, 3 dan 4. Adapun maksud yang terkandung dalam ayat ini adalah diperbolehkan bagi setiap orang lelaki untuk menikah dengan beberapa wanita, masing-masing dengan 2 orang-2 orang, atau 3 orang-3 orang, atau 4 orang-4 orang. Adapun wawu pada kalimat ini adalah berarti أو (atau), sehingga jumlah maksimal istri yang boleh dinikahi adalah 4 orang. Adapun golongan orang yang memaknainya dengan arti ‘dan’ dengan implikasi menambahkan 2 + 3 + 4 sehingga jumlah maksimalnya adalah 9 orang istri, ataupun yang menambahkan 2 + 2 + 3 + 3 + 4 + 4 dan menghasilkan jumlah total 18 orang istri, adalah golongan-golongan yang keliru. Pendapat mereka syadz dan menyalahi ijma’.[9]

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فواحدة : makna ayat ini sebagaimana yang disebutkan oleh imam al-Jashshosh dalam kitabnya Ahkamul Qur’an adalah bersikap adil dalam pembagian terhadap para istri. Adapun adil yang tidak mungkin dapat dilakukan sebagaimana yang terdapat dalam surat an-Nisa’ ayat 129 {ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء ولو حرصتم فلا تميلوا كل الميل}, yang dimaksud di dalamnya adalah adil dalam kecondongan hati atau cinta, bukan yang lain. Maka, keadilan yang mungkin untuk dilakukan dan ditakutkan untuk tak terlaksana adalah kecondongan dalam sikap. Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk mencukupkan dengan beristri satu bagi yang takut menampakkan kecondongan, bersikap dholim, dan tak dapat bersikap adil.[10]

أَوْ مَا مَلَكَتْ أيمانكم : berkedudukan sebagai ma’thuf kepada فواحدة. Frase ini menggunakan susunan maushul, dan susunan ini tidak membatasi jumlah. Oleh karena itu, boleh menikahi beberapa budak. Dan yang dimaksud di sini adalah menikahi dengan jalan memiliki, bukan dengan jalan menikah. Dan ayat ini juga menjadi dalil bahwa para hamba yang dijadikan istri itu tidak berhak untuk diperlakukan adil, termasuk dalam bagian dan giliran.[11]

ذَلِكَ أَدْنَى أَن لا تَعُولُواْ : kata أَدْنَى di sini berarti lebih dekat (الاقرب). Dan perkiraan maknanya adalah أقرب من أن لا تعولوا ‘lebih dekat untuk tidak berbuat condong atau dholim’.

تعولوا : ada 3 pendapat tentang arti kata ini. Menurut Ali ash-Shobuni, asy-Syaukani, dan sebagian besar ulama’ tafsir, maknanya adalah berpaling dan berbuat aniaya. Ini sesuai dengan keterangan Rosululloh yang diriwayatkan oleh sayyidah ‘Aisyah. Namun imam asy-Syafi’i menafsirkan ألا تعولوا berarti ألا تكثروا عيالكم ‘tidak memperbanyak keluarga’. Pendapat ini dipersalahkan dengan 3 alasan, salah satunya adalah bahwa pendapat ini bertentangan dengan ijma’ para ulama’ salaf bahwa artinya adalah berpaling dan berbuat aniaya. Sedangkan pendapat yang ketiga mengartikan تعولوا dengan تفتقروا (menjadi faqir). Pendapat ini juga dipersalahkan karena sejak awal pembahasan ayat ini adalah mengenai keadilan (فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فواحدة). Maka jawab syarat ini tidak lain adalah lawan kata dari adil, yaitu berpaling dan berbuat aniaya.[12]

  1. Fiqh ayat

Bertolak dari penafsiran tehadap ayat di atas, terdapat beberapa masalah fiqh. Diantaranya, dalam firman Allah {وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِى اليتامى فانكحوا} terdapat keterangan bahwa anak yatim juga harus diperlakukan seperti layaknya wanita lain. Selain itu, surat an-Nisa’ ayat 3 ini menjadi sumber hukum nikah. Terdapat beberapa perbedaan pendapat dari para ulama’ ahli fiqh. Mayoritas ulama’ berpendapat bahwa perintah yang terdapat dalam firman Allah [فانكحوا] adalah menunjukkan faidah jawaz (boleh menikah) sebagaimana kata perintah yang terdapat dalam firman Allah {كلوا واشربوا} dan {كلوا من طيبات ما رزقناكم}.

Sedangkan para pengikut madzhab adh-Dhohiri mengatakan bahwa hukum nikah adalah wajib. Mereka mengikuti dhohir dari ayat ini, karena sesungguhnya perintah adalah untuk menunjukkan arti wajib. Mereka mengambil hujjah dari surat an-Nisa’ ayat 25 { وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا} sampai { وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْ}. Ayat ini menjelaskan bahwa yang tidak mampu untuk menikah dengan wanita muslimah merdeka, jalan keluarnya adalah dengan menikahi budak-budak muslimah mereka. Sehingga para ahli dhohir mengatakan bahwa menikah itu adalah sebuah kewajiban.

Imam Al-Fakhr Al-Rozi berpendapat bahwa Allah menentukan hukum meninggalkan menikah dalam keadaan seperti yang diterangkan dalam ayat 3 (takut tidak dapat berbuat adil) adalah lebih baik dari pada melakukannya. Bahkan beliau mengatakan bahwa hukumnya tidak hanya sunnah, melainkan wajib.[13]

 

  1. Surat An-Nisa’ Ayat 22-24
وَلا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلا (٢٢)

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).”

  1. Asbabun Nuzul

Diriwayatkan, bahwa Abu Qais bin Aslat ketika meninggal dunia, istrinya dipinang oleh anaknya sendiri yaitu Qais. Lalu si istri itu berkata: Engkau ku anggap sebagai anakku, dan engkau adalah termasuk putra terbaik di kalangan kaummu. Tunggu dulu, aku akan datang ke tempat Rasulullah SAW untuk minta izin. Lalu ia datang ke tempat Rasulullah SAW minta izin seraya berkata: Ku anggap dia itu sebagai anak, maka bagaimanakah pendapatmu? Rasulullah SAW menjawab: kembalilah ke rumah. Begitulah, maka tidak lama kemudian turunlah ayat “Dan jangan kamu mengawini perempuan yang pernah dikawini oleh ayah-ayahmu….”.[14]

  1. Munasabah

Ayat ini masih merupakan kelanjutan dari pembatalan dan larangan melakukan adat buruk sebagian masyarakat Jahiliyah.

Bermula dari ayat 19 hingga 21 yang Allah telah melarang mempusakai wanita dengan jalan paksa dan menyusahkan mereka untuk mengambil kembali maskawin yang mereka janjikan atau berikan. Kali ini, larangan lebih tegas dan bersinambung diarahkan kepada adat buruk lain, yaitu menikahi bekas istri ayah sendiri, yakni ibu tiri, baik setelah kematian sang ayah maupun akibat perceraian hidup, baik perkawinan itu dengan paksa, seperti bunyi ayat yang lalu, maupun suka sama suka. [15]

  1. Tafsir Ayat

(ولا تنكحوا مانكح أباؤكم من النساء), dalam ayat ini Allah menyebutkan kata nikah terlebih dahulu dan tidak menyebutnya bersamaan dengan semua muharromat yang disebutkan pada ayat berikutnya, karena hal itu (menikahi ibu tiri) merupakan hal yang merajalela pada masa jahiliyah. Allah pun sangat mencela dan membenci hal tersebut, sehingga menamakannya dengan kata fahisyah. [16] (إلا ما قد سلف) artinya kecuali yang telah lalu dari hal tersebut, maka tidak berdosa, dimaafkan. (إنه كان فاحشة ومقتا وساء سبيلا) artinya bahwa menikahi istri-istri ayah merupakan kegemaran yang salah. Syari’at ini juga sebagai petunjuk dari Allah untuk manusia. Hal itu merupakan hal yang sangat jelek lagi hina. [17]

  1. Fiqih Ayat

Dalam ayat ke-22 ini, Allah SWT mengharamkan orang mengawini bekas istri-istri ayahnya sebagai penghormatan dan pemuliaan bagi mereka walaupun dengan hanya melakukan akad nikah saja tanpa bercampur. [18]

 

 حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (٢٣

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

  1. Munasabah

            Pada ayat-ayat yang lalu telah disebutkan adanya izin untuk mengawini wanita-wanita yang disenangi dua, tiga, dan empat. Izin untuk mengawini wanita-wanita yang disenangi, kemudian dikecualikan; ada yang berkaitan dengan menikahi wanita-wanita yang selama ini oleh adat dibenarkan, dan itulah yang antara lain diuraikan oleh ayat-ayat lalu. Dalam ayat-ayat ini dan ayat-ayat berikut akan diuraikan wanita-wanita yang tidak boleh dikawini, walaupun larangan itu bukan lahir karena ia dipraktekkan dalam masyarakat, tetapi karena ia sejalan dengan naluri manusia yang sehat. [19]

  1. Tafsir Ayat

            Dalam ayat ini Allah menjelaskan golongan-golongan muharramat (wanita-wanita yang haram dinikahi) karena beberapa sebab sehingga menafikan hubungan pernikahan antar sesorang. Berikut pembagiannya:

Golongan pertama, yang haram dinikahi dari segi nasab

  1. Nikah ushul, berdasarkan firman Allah (حرمت عليكم أمهاتكم), maksudnya adalah ibu termasuk nenek.artinya bahwa Allah telah mengharamkan kamu sekalian untuk menikahi ibu kalian sendiri.
  2. Nikah furu’, yaitu (وبناتكم) yang dimaksud di sini adalah anak-anak perempuan kita sendiri atau cucu-cucu perempuan kita sendiri, yang mana kita menjadi sebab atas kelahiran mereka.
  3. Nikah hawasyi (kerabat), berdasarkan firman Allah SWT

(وأخواتكم), baik itu saudara kandung, seibu ataupun seayah.

  1. Nikah hawasyi yang jauh dari pihak ayah dan ibu, berdasarkan firman Allah (وعماتكم وخالاتكم) yaitu bibi-bibi dari pihak ayah ataupun ibu meliputi anak-anak kakek atau nenek ke atas.
  2. Nikah hawasyi yang jauh dari pihak saudara, berdasarkan firmannya (وبنات الأخ وبنات الأخت) dari arah ayah atau ibu, ataupun dua-duanya.

Golongan kedua, yang haram dinikahi karena sebab rodlo’ah, berdasarkan firman Allah: وأمهاتكم اللاتي ارضعنكم وأخواتكم من الرضاعة . Melalui ayat ini, dapat diketahui bahwa arah rodho’ sama dengan arah nasab. Hal ini pun juga dijelaskan dalam hadits Nabi SAW. Nabi SAW bersabda ketika diminta menikahi anak perempuan pamannya, Hamzah, “Sesungguhnya ia tidak bisa halal bagiku, sesungguhnya ia adalah anak saudaraku dalam susuan, dan penyusuan mengharamkan apa yang diharamkan oleh nasab.” (H. R. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas). [20]

Golongan ketiga, yang haram dinikahi karena sebab mushoharoh (perkawinan) adalah:

  1. (وأمهات نسائكم) yaitu ibu dari istri dan termasuk di dalamnya nenek dari istri. Dan tidak disyaratkan dalam pengharaman ibu mertua ini bercampurnya dengan sang anak, melainkan cukup akad saja.
  2. (وربائكم اللاتى في حجوركم من نسائكم) roba’ib adalah bentuk jamak dari kata robibah, yaitu anak-anak perempuan istri dari laki-laki lain. (فإن لم تكونوا دخلتم بهن فلا جناح عليكم) , yaitu bahwa apabila seorang laki-laki menikahi seorang wanita dan tidak mencampurinya, maka anak-anak perempuan wanita tersebut tidak haram baginya. [21]
  3. (وحلائل أبنائكم الذين من أصلابكم) hala’il adalah bentuk jamak dari kata halilah, yang artinya adalah istri. Yang dimaksud disini adalah cucu-cucu, baik dari anak laki-laki ataupun anak perempuan (termasuk pula rodlo’ah).

Golongan keempat, yang haram dinikahi karena sebab lain yang menyebabkan keharaman itu. Jika sebabnya hilang, maka gugurlah keharaman itu. Berdasarkan firman Allah SWT:

  1. (وأن تجمعوا بين الأختين) maksudnya adalah pengharaman mengumpulkan 2 saudari (sama-sama menjadikannya istri dalam satu waktu).
  2. (إلا ما قد سلف) artinya kecuali yang telah lalu, sebelum adanya pengharaman. Maka yang seperti itu tidak berdosa.
  3. (إن الله كان غفورا رحيما) sebagian dari rahmat-Nya adalah Allah menghapus bekas-bekas kejelekan dari diri-diri kamu sekalian dan mengampuni dosa-dosamu jika kamu sekalian bertaubat pada-Nya. Sedangkan yang termasuk rahmat-Nya adalah disyari’atkannya hukum-hukum nikah yang mengandung banyak maslahah dan mengokohkan ikatan di antara kamu sekalian, agar dapat saling mengasihi dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. [22]

 

  1. Fiqih Ayat

Ayat ini menerangkan golongan perempuan-perempuan yang disebut “mahram”, artinya tidak dapat dikawin oleh seseorang dikarenakan hubungan darah, air susu atau hubungan karena perkawinan (seperti mertua atau menantu).

Berkata Ibnu Abbas menurut riwayat Ibnu Abi Hatim: “Tujuh golongan diharamkan karena hubungan darah dan tujuh golongan diharamkan karena hubungan disebabkan perkawinan. Mereka itu adalah: ibu, anak perempuan, saudara perempuan, saudara ayah perempuan, saudara ibu perempuan, anak saudara laki-laki dan anak saudara perempuan. Anak perempuan yang lahir dari hubungan zina pun termasuk mahram yang tidak boleh dikawin menurut pendapat jumhur ‘ulama’, termasuk Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Sedang menurut Imam Syafi’i, ia boleh dikawin karena ia bukanlah anak sah, dengan dalil bahwa ia tidak berhak mendapat warisan seperti anak yang sah yang lahir dari perkawinan yang sah.

Sebagaimana ibu kandung, ibu susu juga menjadi mahram yang tidak boleh dikawin.[23] Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إن الرضاعة تحرم ما تحرم الولادة

“Penyusuan mengharamkan apa yang diharamkan oleh kelahiran.”

Adapun mengenai ibu mertua (ibu istri) maka ia menjadi mahram bagi sang menantu, begitu ia melakukan akad nikah dengan putrinya walaupun ia belum atau tidak sampai mencampurinya. Sedang mengenai anaknya istri (anak tiri) maka ia menjadi mahram bila ia sudah mencampuri ibunya. Dan andaikata ia mencerai ibunya sebelum dicampuri, maka halal baginya mengawini si anak tiri. [24]

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan Dihalalkan bagi kamu selain yang demikian(yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

 

  1. Asbabun Nuzul

            Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Abu Sa’id Al-Khudari r.a. berkata , “Kami pernah memperoleh hamba-hamba sahaya dari tawanan Authas yang bersuami, maka kami enggan mencampuri mereka dan bertanya kepada Rasulullah, lalu turunlah ayat ke-24 in dan barulah kami rela mencampuri mereka.

  1. Munasabah

Dalam ayat sebelumnya, dijelaskan tentang wanita-wanita yang haram dinikahi karena sebab nasab, rodlo’, karena sebab perkawinan seperti saudarinya istri atau bibinya. Sedangkan ayat ini menjelaskan kehalalan menikahi wanita-wanita yang tidak termasuk dalam kategori muharramat dengan syarat adanya mahar dan menghindari dari berbuat dosa termasuk zina. [25]

  1. Tafsir Ayat

(والمحصنات من النساء إلا ما ملكت آيمانكم) artinya kamu sekalian diharamkan menikahi wanit-wanita yang telah bersuami kecuali budak-budak yang kamu miliki dari tawanan peperangan dalam membela agama Islam, sedangkan suami-suami mereka adalah orang-orang kafir. Kamu sekalian juga telah melihat maslahah.

  1. Fiqih Ayat

            Dalam ayat ini dijelaskan bahwa seseorang diharamkan mengawini perempuan yang bersuami (muhshonat) kecuali hamba-hamba sahaya yang dimiliki sebagai tawanan perang. Mereka dapat dikawin setelah dilakukan istibra’, yakni dilakukan penyelidikan terlebih dahulu apakah mereka dalam keadaan mengandung dari suami-suami mereka yang tidak ikut tertawan. [26]

Allah menghalalkan seseorang mengawini wanita-wanita selain macam-macam wanita yang tersebut dalam ayat 23 dan 24 ini. Juga dihalalkan bahwa orang mencari istri-istri dengan hartanya untuk dikawin bukan untuk berzina, seorang atau lebih sampai batas empat orang, asalkan dengan cara yang sah menurut syari’at.

Allah mewajibkan seseorang memberi mahar (maskawin) kepada istrinya sebagai imbalan bagi kenikmatan yang telah diperoleh dari hidupnya sebagai suami istri. [27]

 

  1. Surat Ar-Rum Ayat 21

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

  1. Munasabah

Ada beberapa macam munasabah antara ayat 21 ini dengan beberapa ayat sebelum dan sesudahnya, di antaranya adalah:

  1. Penjelasan awal pada bab ini adalah mensucikan Allah dari segala kekurangan. Adapun bentuk pembuktiannya adalah dengan memuji-Nya atas penciptaan segala sesuatu, dan kekuasaan-Nya dalam menghidupkan dan mematikan. Dalam urutan ayat-ayat ini terdapat penuturan bukti-bukti atas keesaan-Nya, keberadaan-Nya, dan keagungan-Nya.[28]
  2. Ayat sebelumnya (ayat 19) {يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي ويحي الأرض بعد موتها وكذلك تخرجون} menjelaskan tentang penciptaan makhluq hidup dari makhluq mati, begitu juga sebaliknya. Sedangkan ayat ini dibuktikan kebenarannya dengan ayat-ayat setelahnya, termasuk ayat ke-21. Ayat 21 berisi keterangan bahwa manusia yang satu itu tercipta dari (jenis) manusia lainnya.
  3. Ayat 20 menjelaskan bahwa manusia itu tersebar {ثم إذا أنتم بشر تنتشرون}, ayat 21 memberikan gambaran bagaimana manusia itu tersebar, yaitu dengan memperoleh anak melalui jalan pernikahan.
  4. Ayat 22 juga menjelaskan tentang kejadian alam.
  5. Ayat 21 dan beberapa ayat setelahnya memberikan keterangan bahwa alam ini ada dengan berpasang-pasangan dan mempunyai perbedaan, laki-laki dan wanita, langit dan bumi, siang dan malam, dan lain-lain.
  1. Tafsir Ayat

ومن ءاياته : berkedudukan menjadi khobar muqoddam, berarti ‘dan di antara tanda-tanda-Nya’. Terdapat perbedaan tentang pertanda akan apakah yang dimaksud. Wahbah az-Zuhaili mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah pertanda akan sifat maha kuasa dan kasih sayang Allah.[29] Namun asy-Syaukani dalam kitabnya Fathul Qodir dan Mahmud al-Alusi dalam Ruhul Ma’ani mempunyai pendapat yang sejalan, yaitu pertanda tentang munculnya/diciptakannya makhluq satu dari makhluq lain.[30] Dan pendapat kedua inilah yang lebih dapat dipegang, meski qoul pertama pun mempunyai sisi kebenaran. Karena penafsiran kedua ini seirama dengan pembahasan ayat-ayat sebelumnya.

أن خلق لكم : berkedudukan menjadi mubtada’ muakhkhor, maknanya ‘menciptakan bagi kalian (istri-istri)’. Penyertaan huruf lam (ل) di sini mempunyai makna peruntukan (أجلية). Hal inilah yang menjadikan ar-Rozi mengatakan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa keberadaan wanita mempunyai keserupaan dengan keberadaan hewan-hewan ternak dan tumbuh-tumbuhan, yaitu sama-sama bernilai manfaat dan merupakan nikmat bagi lelaki. Ia mendasarkan pendapatnya ini pada ayat خلق لكم ما في الأرض (al-Baqoroh : 29). Pendapatnya ini berakibat pada pemahaman bahwa tujuan diciptakan wanita sebenarnya bukan untuk ibadah atau dikenai beban taklif, melainkan sebagai nikmat bagi kaum lelaki. Hal ini terbukti bahwa wanita tidak dikenai beban hukum seberat beban hukum yang dikenakan kepada lelaki.[31]

من أنفسكم أزواجا : arti secara bahasa adalah ‘dari diri kalian’. Penafsiran pertama mengenai frase ini adalah bahwa Hawa’ diciptakan dari diri Nabi Adam. Dan penafsiran lain mengatakan bahwa من adalah من إبتدائية, yaitu من yang menunjukkan arti permulaan, sedangkan أنفس merupakan majaz dari جنس. Sehingga pemaknaan sesuai penafsiran kedua ini adalah ‘diciptakannya istri-istri bagi kalian berawal dari jenis kalian’. [32]Dari 2 penafsiran ini, qoul kedua lebih kuat karena disesuaikan dengan ayat lain, yaitu {لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مّنْ أَنفُسِكُمْ} (at-Taubah : 127)[33]

لتسكنوا إليها : maksudnya adalah diamnya hati, yaitu merasa tenang dan tenteram. Bukanlah maksud ayat ini diam yang bersifat jasadi, karena diam yang jasadi itu menggunakan term سكن عند. Sedangkan yang dipakai disini adalah سكن إلي. Adapun إلي adalah menunjukkan غاية , yaitu hati.[34]

وجعل بينكم مودة ورحمة : kata مودة dan رحمة mempunyai beberapa penafsiran. Diantaranya adalah rasa cinta dan kasih sayang antar pasangan karena terjalin dalam ikatan pernikahan sehingga keduanya dapat saling menyayangi dan bersikap lemah lembut. Ini yang dipegangi oleh jumhur. Sedangkan Mujahid memberikan penafsiran berbeda dengan memberikan makna jima’ untuk مودة dan makna anak untuk kata رحمة.[35]

إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون : kata ذلك merupakan isim isyaroh, dan musyar ilaihnya adalah segala sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya, mulai penciptaan manusia dari tanah sampai tumbuhnya rasa cinta dan kasih sayang. Adapun pengkhususan pertanda ini hanya bagi orang-orang yang berfikir adalah karena merekalah yang mampu mencari dalil atas ini semua. Kalau tidak berfikir, bagaimana bisa menemukan patunjuk atas semua keajaiban dan kekuasaan Allah ini.[36]

 

 

  1. Fiqh Ayat

Masalah hukum yang terdapat dalam ayat ini adalah bahwa pernikahan itu ditekankan untuk dapat langgeng, bukan untuk mudah bercerai. Ini adalah implikasi dari kecenderungan dan ketenangan hati (لتسكنوا إليها). Sedangkan dari kata مودة dan رحمة terdapat pelajaran bahwa pernikahan harus dilandaskan rasa cinta dan kasih sayang. Sehingga, jika pernikahan itu dilakukan dengan niat berbuat buruk kepada istri, maka nikah itu haram. Di sisi lain, untuk mencapai ketenangan hati dalam hubungan pernikahan seperti yang diimpikan, maka harus dijalani dengan cinta dan kasih sayang.[37]

 

  1. Surat an-Nur ayat 3

الزَّاني‏ لا يَنْكِحُ إِلاَّ زانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَ الزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُها إِلاَّ زانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَ حُرِّمَ ذلِكَ عَلَى الْمُؤْمِن

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.

  1. Asbabun Nuzul

Ada beberapa pendapat mengenai sebab turunnya ayat ini, diantaranya adalah:

  1. Diriwayatkan terdapat seorang laki-laki yang bernama Murtsid Al ghonawi, ia membawa barang (al asaaro) dari Mekah ke Madinah, ada perempuan yang gak baik kelakuannya (pelacur) di mekah yang disebut ‘anaaqa, ia teman murtsid, murtsid menjanjikan asaro untuk dibawa dari mekah, murtsid berkata: saya datang sampai pada bayangan pagar-pagar madinah pada malam hari yang bercahaya rembulannya, maka anaq datang dan melihat hitamnya bayanganku di bawah pagar, ketika sampai kepadaku ia Tanya kepadaku: murtsid? Aku berkata , ya murtsid. Ia berkata selamat datang dan nginaplah malam ini, saya berkata: wahai ‘anaq Allah telah mengharomkan zina, ‘anaq memanggil wahai murtsid laki-laki ini membawa barangmu, maka juAllah darinya delapan bagian, maka setelah sampai gua ada orang-orang berdatangan mendatangiku dan mengencingiku, sehingga air seni mereka mengenai kepalaku, dan Allah membutakan mereka dari melihat aku, kemudian mereka pulang dan aku juga pulang ke madinah dan mendatangi rosul, saya berkata: wahai rosul, apakah saya boleh menikah dengan ‘anaq? Rosul diam dan tidak menjawab kemudian Allah menurunkan ayat tersebut. Kemudian rosul membacakannya kepadaku dan berkata, wahai murtsid jangan menikahinya.
  2. Diriwayatkan dari ‘amr bin syu’ayb dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya seorang laki-laki bernama murtsid bin abi murtsid berkata pada nabi, apakah saya boleh menikah dengan seorang budak yakni wanita lacut yang ada dimekah? Ia berkata: maka nabi diam darinya, sehingga turun ayat tersebut maka ia berkata: wahai murtsid jangan menikahinya(diriwayatkan abu daud 2/220 kitabunnikaah bab firman Allah ta’aala azzani laa yankihuha illa musyrikah, tirmidzi 5/307 kitab tafsir alquran, annasaai 6/66 kitabunikah.)[38]
  3. diriwayatkan terdapat seorang perempuan yang bernama ummi mahzuul, dia salah seorang pelacur, ia meminta seorang laki-laki untuk menikahinya dan mensyaratkan akan dikasih nafakah kepada laki-laki tersebut, maka salah seorang dari sahabat nabi ingin menikahinya maka turunlah ayat tersebut.
  4. diriwayatkan bahwasanya ayat tersebut turun pada ahlusuffah mereka dari golongan almuhajirin, mereka miskin dan tidak punya keluarga, maka mereka menginap di sanggar masjid mereka sekitar 400orang yang mencari rizki kalau siang dan kembali ke suffah kalau malamnya, ada beberapa wanita pelacur yang dilaknat dengan sifat lacutnya dan berlebih-lebihan dalam pakaian dan makanan, sebagian dari ahlusuffah menginginkan menikahi mereka agar bisa mengentaskan kemiskinan mereka dan makan dari makanan mereka maka turunlah ayat tersebut.[39]

 

  1. Munasabah

Ayat dua sebelum ayat ini menjelaskan hukuman terhadap pezina. Setelah Allah menjelaskan hukuman-hukuman terhadap pezina, maka melalui ayat ini Allah secara halus menyuruh kaum muslimin untuk menhindari pezina, terlebih jika ingin dijadikan pasangan hidup.

 

  1. Tafsir

Seorang pezina dilarang menikahi perempuan baik-baik kecuali yang sama seperti mereka, yaitu seorang pezina perempuan atau perempuan musyrikah. Begitupun sebaliknya, pezina wanita dilarang menikah kecuali yang sama. Imam al-fakhr mengatakan bahwa seorang yang dalam keadaan fasiq (senang berzina) tidak mempunyai hasrat untuk menikahi wanita sholihah, tetapi lebih memilih untuk menikahi wanita sepertinya. Begitu juga dengan seorang wanita yang senang berzina, tidak memilki hasrat untuk menikahi seorang lelaki soleh. Akan tetapi lebih memilih pria yang sama seperti dia atau seorang pria musyrik.[40]

perzinahan diharamkan atas orang-orang mukmin. Ada juga yang memahami kata diharamkan bukan dalam pengertian hokum, tetapi dalam pengertian kebahasaan yakni terlarang dan dengan demikian ayat ini bagaikan berkata bahwa itu tidak wajar dan kurang baik.

Ulama ketiga madzhab- abu hanifah, malik dan syafi’I menilai sah perkawinan seorang pria yang taat dengan seorang wanita pezina, tetapi hukumnya makruh. Alasnnya antara lain firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 24 yang menyebutkan sekian banyak yang haram dikawini lalu menyatakan, “dan dihalalkan untuk kamu sekalian yang disebut iu”. Nah, pezina tidak termasuk yang disebut dalam kelompok yang selain itu sehingga itu berarti menikahi adalah halal. Imam Ahmad dan sekolompok ulama lain berpendapat bahwa perkawinan pezina pria kepada wanita yang memelihara diri/baik-baik atau sebaliknya, tidaklah sah. Salah satu alasannya adalah ayat yang ditafsirkan ini.[41]

  1. Fiqih Ayat

Perintah untuk menghindari pezina, baik laki-laki maupun perempuan untuk dijadikan pasangan hidup. Serta pengharaman pernikahan seorang pezina dengan kaum mukmin.

 

  1. Surat An-Nur Ayat 32

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.

 

  1. Munasabah

Ayat 31 memerintahkan untuk memelihara kesucian diri dan jiwa kaum mukminin baik pria maupun wanita, serta memelihara pandangan, kemaluan dan menutup aurat, maka kini para pemilik budak dan wali diperintahkan untuk membantu budak-budak mereka bahkan semua yang tidak memilki pasangan hidup agar mereka juga memelihara diri dan kesucian mereka.[42]

  1. Tafsir
  • وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ yakni menikahkanlah wahai para wali dan pemimpin atau para umat sekalian dengan membantu dan menghilangkan kesulitan bagi yang belum punya pasangan (jomblo) yang laki-laki maupun perempuan, agar bisa membentuk keluarga serta mampu menegakkan hak-hak antara pemuda dan pasangannya tersebut dan bisa mencari rizqi serta terciptanya keluarga sakinah dan mawaddah. Sebagian besar pendapat khitob ayat ini ditujukan pada para wali, dan dikatakan juga bagi para calon pengantin.[43] Pada ayat tersebut menunjukkan perintah, dan perintah yang Nampak menunjukkan kewajiban bagi wali untuk menikahkan jomblowan-jomblowati mereka sehingga wali merupakan rukun dari nikah karena tidak boleh menikah tanpa adanya wali, perintah ayat ini sesuai dengan hadits rosul (إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير).
  •  إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ yakni Allah akan memberikan rizki kepada mereka dengan karunia dan luasnya rahmat-Nya, sebagian berpendapatyang dimaksud mereka disini khusus diberikan kepada yang merdeka bukan hamba sahaya, sebagian berpendapat ini digunakan untuk semua yang telah disebutkan terdahulu dari merdeka dan hambasahaya atas karunia-Nya. Cukup(mampu) ada dua macam cukup harta ia adalah lemahnya keadaan dan cukup dengan neriman ia adalah kuatnya keadaan sebagaimana diriwayatkan dalam hadits tentang kecukupan yaitu cukup dengan jiwanya menerima (laysal ghinaa ‘an katsrotil ‘ard walakinnal ghinaa ‘an ghinannafsi). Diriwayatkan dari hasyim bin ‘urwah dari bapaknya dari baginda rosul bahwasanya ia bersabda: (ankihunnisaa fainnahunna yaktiyannakum bilmaali).[44]
  1. Hukum

Hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita- wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin. Perintah ini dapat merupakan perintah wajib jika pengabainya melahirkan kemadharatan agama dan masyarakat, dan bila tidak mengakibatkan tersebut maka ia dalam pandangan imam malik adalah anjuran, atau mubah dalam pandangan syafi’i.[45] ayat ini juga member janji dan harapan untuk memperoleh tambahan rezeki bagi mereka yang akan kawin, namun belum memilki modal yang memadai. Sementara ulama menjadikan ayat ini sebagai bukti tentang anjuran kawin walau belum memilki kecukupan. Sementara mereka mengemukakan hadits-hadits nabi yang mengandung anjuran atau perintah kawin. Misalnya: “tiga yang pasti Allah bantu. Yang akan menikah guna memelihara kesucian dirinya, hamba sahaya yang akan memerdekakan diri dan memenuhi kewajibannya, serta pejuang dijalan Allah”(HR. Ahmad, at-tirmidzi, dan ibn majah melalui abu hurairah). Tetapi perlu dicatat bahwa ayat ini bukannya ditujukan kepada mereka yang bermaksud kawin, tetapi kepada para wali. Disisi lain ayat berikut memerintahkan kepada yang akan kawin tetapi belum memiliki kemampuan untuk menikah agar menahan diri.[46]

 

DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar Jabir Aljaziry, aysar at-tafasir li kalam al-‘aly al-kabir jlid III, Madinah: Maktabah al-‘Ulum Wa al-Hikam, 1993

Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi Juz 4 (), 218

Al-Jashosh, Ahkamul qur’an jilid 2. Darul Fikr, beirut: 1993

Fakhrur Rozi, Mafatihul Ghoib Juz 9. Dar al-Kutub al-ilmiyah, beirut: 2000.

Jalaluddin, Tafsir Jalalain, dar ibn ‘ashoshoh, beirut.

  1. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 2, Jakarta: Lentera Hati, 2002

Mu’ammal Hamidy, Imron A. Manan, Terjemah Tafsir Ayat Ahkam Ash-Shobuni I, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985

Muhammad ali Ashshobuni, Rawa;I al-bayan tafsir al quran, Jakarta: Daarul Kutubal Islamiyah. 2001

Nasr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrohim as Samarqandi, Tafsir as-samarqandi, Beirut: daar al kitab al alamiyyah

Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier 2,Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2003

Syihabuddin Mahmud Al-Alusi, Ruhul Ma’ani Juz 11. Darul fikr, beirut : 2003.

Wahbah Zuhayli, At-tafsir Al-munir fi al-aqidah wa asyyariah wa al-manhaj, Beirut Lebanon: Daarul Fikr

Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-munir juz 21. Darul fikr, beirut: 1991.

Maktabah syamilah, Asy-Syaukani, Fathul Qodir juz 2.

Maktabah syamilah, asy-syaukani, Fathul qodir juz 5.

 

 

[1] Muhammad Ali Ash-Shobuni, Rowa’i`ul bayan juz 1. Darul kutub Al-Islamiyah, Jakarta: 2001. Hal. 330

[2] Ibid., hal. 332

[3] Maktabah syamilah, Asy-Syaukani, Fathul Qodir juz 2. Hal. 76

[4] Muhammad Ali Ash-Shobuni, ibid., hal. 328

[5] Fathul qodir juz 2 hal 77

[6] Al-Jashosh, Ahkamul qur’an jilid 2. Darul Fikr, beirut: 1993. Hal. 78

[7] Jalaluddin, Tafsir Jalalain, dar ibn ‘ashoshoh, beirut. Hal. 77

[8] Al-Jashosh, ibid., hal. 80

[9] M. Ali Ash-Shobuni, ibid., hal. 334-335

[10] Al-Jashosh, ibid., hal. 82

[11] Fathul qodir jilid 2 hal 78

[12] Fakhrur Rozi, Mafatihul Ghoib Juz 9. Dar al-Kutub al-ilmiyah, beirut: 2000. Hal. 144-145

[13] M. Ali Ash-Shobuni, ibid., hal. 334

[14] Mu’ammal Hamidy, Imron A. Manan, Terjemah Tafsir Ayat Ahkam Ash-Shobuni I (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985), 384

[15] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 2 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 369

[16] Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi Juz 4 (), 218

[17] Ibid, 219

[18] Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier 2, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2003), 341

[19]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, 371

[20] Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi Juz 4, 219-220

[21] Ibid, 221

[22] Ibid, 222-223

[23] Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, 344

[24] Ibid, 346

[25] Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Munir (Beirut: Darul Fikri, 1991),7

[26] Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, 350

[27] Ibid, 352

[28] Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-munir juz 21. Darul fikr, beirut: 1991. Hal. 68

[29] Wahbah Az-Zuhaili, ibid., hal. 69

[30] Maktabah syamilah, asy-syaukani, Fathul qodir juz 5, hal 464 dan syihabuddin Mahmud Al-Alusi, Ruhul Ma’ani Juz 11. Darul fikr, beirut : 2003. Hal. 36

[31] Ar-Rozi, ibid., hal 97

[32] Al-Alusi, ibid., hal 37

[33]Ar-Rozi, ibid., hal 97

[34] Ibid.

[35] Fathul qodir juz 5 hal 464

[36] Fathul qodir juz 5 hal 464

[37] Wahbah Az-zuhaili, ibid., hal 74

[38] Nasr bin Muhammad bin ahmad bin ibrohim as samarqandi, Tafsir as-samarqandi, Beirut: daar al kitab al alamiyyah. Hal. 426

[39] Ibid, Rawa;I al-bayan tafsir al quran hal 9-10

[40] Muhammad ali asshobuni, Shofwatutafasir juz II, (Beirut: darul fikr, 2001), hal. 298-299

[41] Ibid. tafsir al-misbah. Hal. 287

[42] Ibid. hal. 335

[43] Ibid. At-tafsir Al-munir fi al-aqidah wa asyyariah wa al-manhaj,hal. 230

[44] Ibid, tafsir assamarqandi. Hal.438-439

[45] Ibid, tafsir almisbah. Hal. 335

[46] Ibid. hal337

HUKUM PERINGATAN HAUL

peringatan haulKata Haul berasal dari bahasa Arab (الحول) yang berarti kekuatan, kekuasaan, daya, upaya, perubahan, perpindahan, setahun, pemisah dan sekitar.

Kemudian kata haul tersebut berkembang menjadi istilah bahasa Indonesia, yang lazim dipakai oleh komunitas masyarakat muslim yang Nahdliyyin, dan dari istilah indonesia inilah, kata haul memiliki dua pengertian, yaitu:

  1. Haul berarti berlakunya waktu dua belas bulan hijriyah terhadap harta yang wajib dizakati di tangan pemilik (Muzakki). Arti ini berkaitan erat dengan masalah zakat.
  2. Haul berarti upacara peringatan ulang tahun wafatnya seseorang (terutama tokoh agama islam), dengan berbagai cara, yang puncaknya menziarahi kubur Al-Marhum atau Al-marhumah.

Dari dua pengertian tersebut, yang akan diuraikan dalam tulisan ini hanya yang menyangkut pengertian kedua, yaitu yang berhubungan dengan peringatan genap satu tahun dari wafatnya Al-marhum atau Al-marhumah, sebab haul dengan arti: ”Peringatan genap satu tahun”, sudah berlaku bagi keluarga siapa saja, tidak terbatas pada orang-orang Nahdliyyin saja, tetapi berlaku pula pada komunitas masyarakat lainnya, sekalipun bukan muslim.

Masalah haul ini akan terasa lebih bernuansa agamis dan terasa dahysat ketika yang meninggal itu seorang tokoh kharismatik, ulama besar, pendiri sebuah pesantren, dan lain sebagainya, yaitu haul dipublikasikan oleh banyak institusi pemerintah dalam bentuk peringatan hari jadi kota atau daerah. Hal ini bisa dikemas dengan berbagai acara, mulai dari pentas budaya, seni dan hasil produk andalan daerah itu sendiri, bahkan pada puncaknya sering diisi penyampaian mauidlah hasanah dari tokoh masyarakat, yang sebelumnya diawali dengan bacaan istighatsah, tahlil dan lain sebagainya.

Selama ini kita sering dengar, bahkan menyaksikan sendiri acara haul yang diselenggarakan di berbagai daerah di indonesia, khususnya di Jawa, misalnya di Banten, Serang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Lampung, dan bahkan Papua, padahal inti acaranya ialah ziarah kubur.

Adapun rangkaian acaranya dapat bervariatif, ada pengajian, tahlil akbar, istighatsah akbar, mujahadah, musyawarah, halaqah, mengenang dan menceritakan riwayat orang yang di-haul-i, dengan cerita-cerita yang baik yang sekiranya bisa dijadikan sebagai suri tauladan, bersedekah, dan lain-lain.

Yang hadir dalam acara haul sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya ketokohan orang yang di-haul-i, kalau yang di-haul-i ketokohannya tingkat nasional, maka yang hadir hingga mencapai ribuan bahkan puluhan ribu orang yang mayoritas adalah Nahdlatul Ulama’, bahkan sekarang sudah merambah ke tingkat kelompok keluarga (Jam’iyyah ’Usyrah), dan dari banyaknya umat yang hadir ini para penyelenggara lazimnya memandang perlu diadakan pengajian sebagai majlis santapan ruhani. Boleh jadi mereka berbalik yang terpenting adalah mendengarkan Mau’idlah hasanah di acara pengajian itu ketimbang ziarah ke makam yang bersangkutan, padahal di sana ada nasihat, misalnya tentang kematian dan lain sebagainya.

Hukum Haul dan Landasan Amaliyahnya

secara khusus, haul hukumnya adalah ”Mubah” (boleh), dan tidak ada larangan, sebagaimana yang terungkap dalam hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dari Al-Waqidi, beliau berkata sebagai berikut:

…كان النبى (صلعم) يزور قتلى أحد فى كل حول واذا لقاهم بالشعب رفع صوته يقول السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار ثم أبو بكر كل حول يفعل مثل ذالك ثم عمر ابن الخطاب ثم عثمان. وكانت فاطمة رضى الله عنها تأتيه وتدعو. وكان سعد بن أبى وقاص يسلم عليهم ثم يقبل على أصحابه فيقول ألا تسلّمون على قوم يردّون عليكم السلام

“Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Waqidi mengenai kematian, bahwa Nabi senantiasa berziarah ke makam para Syuhada’ di bukit Uhud setiap tahun dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salaamun alaikum bimaa shabartum fani’ma’uqbaddaar” (QS. Ar-Ra’du: 24) yang artinya: “Keselamatan tetap padamu berkat kesabaranmu, maka betpa baiknya tempat kesudahanmu nanti”. Abu Bakar juga berbuat seperti itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Sa’d bin Abi Waqash mengucapkan salam kepada para Syuhada’ tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata: “Mengapa kamu tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salammu”.

Dari hadist inilah, maka Al-Musawiy berkomentar dalam kitab Nahju Al-Balaghah sebagai berikut:

فى مناقب سيّد الشهداء حمزة رضى الله عنه للسّيّد جعفر البرزنجى قال وكان عليه الصلاة والسلام يأتى قبور الشّهداء بأحد على رأس كلّ حول

“dalam Manaqib Sayyid As-Syuhada’, Hamzah bin Abi Thalib yang ditulis Sayyid Ja’far Al-Barzanjy, dia berkata RAsulullah mengunjungi makam Syuhada’ Uhud pada setiap awal tahun”.

Akan tetapi jika dilihat dari sisi acara-acara ritual yang ada di dalam haul, maka hukumnya dapat dilihat sebagai berikut:

  1. Ziarah kubur, ini hukumnya boleh (Mubah), bahkan dianjurkan (مستحب), sebab adanya perintah yang jatuh setelah larangan, yaitu hadist Nabi SAW sebagai berikut:

Hadist Riwayat Ahmad Ibnu Majjah, yaitu:

كان صلى الله عليه وسلم يزور قبور شهداء أحد وقبور أهل البقيع وسلّم عليهم ويدعو لهم بما تقدم. رواه مسلم و أحمد و ابن ماجه

”Rasulullah berziarah ke makam Syuhada’ dalam perang Uhud dan makam keluarga Baihaqi, dia mengucapkan salam dan mendoakan mereka atas amal-amal yang telah mereka kerjakan”.

  1. Bacaan Tahlil, tahmid, tasbih, dan ayat-ayat Al-Qur’an, yang pahalanya dihadiahkan kepada yang di-haul-I dan ahli kubur. Hal ini dianjurkan (مستحب). Hal ini berdasarkan hadist riwayat Baihaqi dan Thabraniy, yaitu:

عن ابن عمر رضى الله عنهما قال: سمعت رسول الله (صلعم) يقول: اذا مات أحدكم فلا تحسبوه واسرعوا به الى قبره وليقرأ عند رأسه فاتحة الكتاب و لفظ البيهقى فاتحة القبرة وعند رجليه بخاتمة سورة البقرة فى قبره. أخرجه الطبرى و البيهقى

“Dari sahabat UmaIbnu Umar, beliau mengatakan: saya mendengar Rasulullah bersabda jika seorang di antara kalian meninggal dunia maka jangan kalian tahan, cepat-cepatlah kalian bawa ke kubur dan bacakan di arah kepadalnya Al-Fatihah, menurut kalimat Al-Baihaqiy awal surat Al-Baqarah dan lurus di kakinya akhir surat Al-Baqarah”.

  1. bersedekah, ini hukumnya Sunnah;
  2. menuturkan riwayat hidup yang baik-baik, ini adalah mengikuti sunnah Nabi, Khulafa’ur Rasyidin, dan tradisi ulama’ salaf dan Khalaf;
  3. Pengajian, yang sudah jelas dalam islam dianjurkan untuk amar ma’ruf nahi mungkar sebagai suatu mai’idlah hasanah, termasuk di dalamnya adalah kegiatan musyawarah dalam halaqah, yang juga dianjurkan dalam islam, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam kitab Syarkh Ihya’ Ulumuddin sebagai berikut:

ذكرى يوم الوفاة لبعض الاولياء و العلماء مما لا تنهاه الشريعة الغراء حيث أنها تشتمل غالبا علي ثلاثة أمور منها زيارة القبر و التصدق بالمأكل و المشارب و كلاهما غير منهيّ عنه, و منها قرائة القران و الوعظ و الدينى وقد يذكر فيه مناقب المتوفى وذالك مستحسن للحثّ على سلوك طريقته المحمودة

“Memperingati hari wafat para wali dan para ulama’ termasuk amal yang tidak dilarang agama. Ini tiada lain karena peringatan itu biasanya mengandung sedikitnya tiga hal: ziarah kubur, sedekah makanan dan minuman, dan keduanya tidak dilarang agama. Sedangkan unsur ketiga adalah karena ada acara baca Al-Qur’an dan nasihat keagamaan. Kadang dituturkan juga manaqib (biografi) orang yang telah meninggal, cara ini baik untuk mendorong orang lain agara mengikuti jalan terpuji yang telah dilakukan mayit”.

 

DAFTAR REFERENSI:

At-Turmudzy. Sunan Al-Turmudziy. Semarang: Maktabah wa Mathbaah Thaha Putra.

Al-Musawiy, Al-Syarif Al-Ridla. Nahju Al-Balaghah.Beirut: Maktabah Dar Al-Fikr.

Al-Haitsamiy, Ahmad Ibnu Hajar. Fatawa Al-Kubra Al-Fiqhiyyah. Beirut: Maktabah Muassasah Al-Tarikhiy Al-Arabiy.Al-Syaukaniy, Muhammad Bin Ali. 1973. Nail Al-Authar min Ahadist Sayyit Al-Abrar. Beirut: Dar Al-Jail.

Muslim. Shahih Muslim. Surabaya: Maktabah Ahmad Bin Nabhan.

Al-Asqalaniy. Hasyiyah Ibnu Hajar ’ala Syarhi Al Idhah li Al-Nawawiy. Makkah Al-Mukarramah: Maktabah Al-Imdadiyyah.

القسم الأوّل الحديث الصّحيح (Hadist Shahih)

أوّلها الصّحيح وهو وما اتّصل # اسناده ولم يشذ ولم يعلّ

يرويه عدل ضابط عن مثله # معتمد فى ضبطه ونقله

Pengertian Hadist Sohih (الحديث الصّحيح) adalah: “hadist yang sanadnya sambung kepada Rasulullah, tidak Syadz / شذ (bukan orang adil), tidak Illat / علّة (hadist yang cacat), ada Rawinya adil, Dlobit (ضابط) yang mana hafalan dan nuqilannya bisa dijadikan pedoman.”

Para ulama’ ahli hadist sepakat bahwa hadist sohih adalah hadist yang dinisbatkan atau sambung (اتّصال) kepada Nabi Muhammad SAW. Dan para ulama’ mengecualikan atas status Hadist Mursal (الحديث المرسل), karena hadsit tersebut menurut Imam Malik termasuk Hadist Sohih, akan tetapi menurut Imam Syafi’I sebaliknya, karena Hadist mursal itu sanadnya putus (لعدم الاتّصال).

Yang dimaksud dengan hadist di sini adalah Matan (المتن). Sedangkan matan itu adalah perkataan (كلام) yang paling ujung, yang mana semodern apapun zaman, orang kalau bicara matan hadist, itu pasti dari perkataan Nabi Muhammad sebagai perkataan paling ujung yang dijadikan sebagai dasar oleh umat islam. Dan pada umumnya matan ini dikenal sebagai isi hadist (نفس الحديث).

Berdasarkan pengertian Hadist shohih di atas, maka dapat diketahui criteria suatu hadist bisa dikatakan sebagai Hadist shohih apabila:

  1. اتّصال السّند (Sanadnya sambung kepada Rasulullah).

Sebagaimana keharusan bagi seorang Rawi mendengarkan hadist yang driwayatkan dari gurunya dari awal sanad sampai pada yang paling ujung sambung kepada Nabi Muhammad SAW.

Adapun yang dinamakan sanad adalah jalan yang menyambungkan atas matan Hadist.

  1. عدم الشّدود (Perawinya tidak boleh lemah ingatan (hafalan)nya.
  2. عدم العـلّة (tidak ditemukan adanya علّـة (cacat).
  3. عــدالة (yang dimaksud dengan adil di sini adalah seorang perawi harus orang muslim, baligh, berakal, tidak fasiq[1] bisa menjaga Muru’ah.
  4. الضّبط (bisa menjaga apa yang didengarnya yang sewaktu-waktu dapat untuk mengeluarkan (mengargumentasikan) apa yang didengarnya tersebut, sekalipun itu dengan tulisan[2] guna untuk menjaga kemurnian hadist mulai dari pertama kali mendengar sampai pada mengeluarkan hadist tersebut, dan tidak menolak jikalau ada orang memungkinkan untuk merubahnya.

Adapun contohnya yakni seperti apa yang diriwayatkan oleh Bukhari:

عن أبى هريرة رضى الله عنه قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم:لولا أن أشقّ على أمّتى لأمرتهم بالسّواك عند كلّ صلاة.

[1] Fasiq yaitu: (Pernah melakukan dosa besar / sering melakukan dosa kecil).

[2] Untuk zaman yang modern seperti ini, ضابط bias diartikan dengan bias menjaga tulisan gurunya dengan tidak merubahnya sedikitpun.

RUJUK (الرجوع)

A. PENGERTIAN RUJUK

“Rujuk” artinya kembali. Maksud “Rujuk” di sini mengembalikan perempuan yang telah diceraikan yang masih dalam keadaan iddah kepada nikah. Suami yang telah menceraikan istrinya boleh rujuk kepada istrinya itu selama dalam masa iddah yang boleh dirujuki. Firman Allah:

“dan suami mereka lebih berhak merujuki mereka dalam waktu beriddah itu, jka mereka hendak berdamai kembali”. (Al-Baqarah: 228).

Dalam hadist Nabi SAW tersebut:

Dari Ibnu Umar r.a waktu itu ditanya oleh seseorang berkata ia: “adapun engkau yang telah menceraikan (istri) baru sekali atau dua kali, maka sesungguhnya Rasulullah SAW telah menyuruhku merujuki istriku kembali”. (Riwayat Muslim).

B. HUKUM RUJUK

  1. wajib: terhadap suami yang menthalak seorang istrinya, sebelum sempurna pembagian waktunya terhadap istri yang dithalaq.
  2. haram: apabila terjadi sebab ruju’nya itu menyakiti kepada si istri.
  3. makruh: kalau terusnya perceraian lebih baik dan berfaedah kepada kedua suami istri.
  4. sunnah: apabia yang dimaksud oeh suami untuk memperbaiki keadaan istrinya, atau keadaan ruju’ itu, lebih berfaedah kepada kedua suami sitri.
  5. Harus (boleh): adalah hokum ruju’ yang asli.

 

C. RUKUN DAN SYARAT RUJUK

  • rukun rujuk.

Rukun rujuk itu ada tiga, yaitu:

  1. suami yang merujuki.
  2. Istri yang dirujuki.
  3. Ucapan yang menyatakan rujuk.
  • syarat rujuk.

a. syarat suami.

Syarat suami yang sah rujuk, yaitu:

  1. Tidak sah rujuk suami yang gila dan sebagainya.
  2. Tidak sah rujuk suami yang masih anak-anak.
  3. Dengan kemauannya. Tidak sah rujuk suami yang dipaksa.
  4. Tidak murtad. Tidak sah rujuk suami yang murtad.

b. syarat istri.

Syarat istri yang sah dirujuki, yaitu:

  1. telah disetubuhi. Tidak sah merujuki sitri yang belum disetubuhi karena ia tidak beriddah.
  2. Bercerai dengan thalak. Tidak sah merujuki istri yang bercerai dengan fasakh.
  3. Tidak bercerai dengan khulu’. Tidak sah merujuki istri yang bercerai dengan khulu’.
  4. Belum habis bilangan thalak. Tidak sah merujuki istri yang telah habis bilangan thalaknya, yaitu telah thalak tiga, atau thalak dua jika budak.
  5. asih dalam iddah. Tidak sah merujuki istri yang telah habis iddahnya. Dalam hadist Nabi SAW tersebut:

 

 

 

“dari Nafi ia berkata: adalah Ibnu Umar,bila ditanya enang seseorang laki-laki menjatuhkan thalak kepada istrinya, sedang istrinya itu dalam keadaan haid, ia berkata: adapun engkau telah menthalaknya sekali atau dua kali. Bahwasanya Rasulullah SAW telahmenyuruhnya supaya merujuknya.” (Riwayat Muslim).

c. Syarat ucapan.

Syarat ucapan rujuk, yaitu:

  1. ucapan yang menunjukkan maksud rujuk. Misalnya kata suami: “aku rujuki engkau” atau “aku kembalikan engkau kepada nikahku”.
  2. Tidak bertaklik. Tidak sah rujuk dengan ucapan yang bertaklik. Misalnya, kta suami: “aku rujuki engkau jika engkau mau”. Rujuk itu tidak sah walaupun istri mengatakan mau.
  3. Tidak terbatas waktunya. Tidak sah rujuk yang terbatas waktunya. Misalnya, kata suami: “aku rujuk engkau sebulan”.

d. ucapan rujuk

ucapan yang dipergunakan untuk rujuk ada dua macam, yaitu:

ucapan yang sharih dan ucapan yang kinayah.

  1. ucapan sharih

ucapan yang sharih ialah ucapan yang tegas maksudnya untuk rujuk. Rujuk dengan ucapan yang sharih tidak berhajat pada niat. Apaila ucapan itu telah dituturkan, rujuk itu telah sah. Missal ucapan sharih, yaitu: “aku kembalikan engkau pada nikahku”. “aku terima kembali engkau”. “Aku rujuki engkau”. Tetapi imam Ayafi’I berpendapat: rujuk itu harus dengan perkataan yang tegas, tidak cukup dengan langsung bercampur dengan segala pendahuluannya. Sebab thalak itu sendiri berarti meniadakan (ikatan) perkawinan.

  1. Ucapan kinayah.

Ucapan kinayah ialah ucapan yang tidak tegas meksudnya untuk rujuk. Mungkin maksudnya untuk rujuk dan mungkin pula yang lain. Rujuk dengan ucapan kinayah berhajat pada niat. Jika ia berniat merujuki istrinya ketika mengucapkannya, sah untuk itu dan jika tidak berniat maka tidak sah. Missal ucapan yang kinayah, kata suami: “aku nikahi engkau” atau “aku kawini engkau”. Firman Allah SWT:

 

 

 

“apabila telah sampai iddah mereka, rujuklah mereka menurut yang sebaik-baiknya, atau biarkannlah mereka menurut yang sebaik-baiknya. Dan hendaklah kamu adakan dua orang saksi yang adil dari golonganmu, dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah semata-mata”.

(At-Thalak: 2).

e. rujuk dengan surat.

Rujuk dengan surat yang ditulis oleh suami sendiri dengan tidak diucapkannya termasuk rujuk dengan ucapan kinayah. Rujuk itu sah jika suami berniat rujuk dengan menulis surat itu dan tidak sah jika tidak berniat.

f. rujuk tidak setahu istri.

Suami yang telah mengucapkan ucapan rujuk telah sah rujuknya walaupun istri tidak menyetujuinya. Dan telah sah juga rujuknya walaupun dilakukan tidak di hadapan istri atau tidak dengan setahunya.

Macam-macam Thalaq (الطلاق)

nikah-1024x640-660x375Thalak ditinjau dari keadaan isteri

thalak merupakan perbuatan yang halal namun dibenci oleh Allah DWT. Keadaan isteri akan menyebabkan terjadi atau tidaknya thalak.

a. Dalam keadaan yang memaksa maka thalak itu dboleh dijatuhkan atas isteri, terutama apabila isteri berbuat hal-hal sebagai berikut:

  1. isteri berbuat zina.
  2. Isteri Nusyuz dan setelah diberi nasehat dengan berbagai cara, namun tetap tidak berubah, dan keadaannya sangat membahayakan bagi ketentraman rumah tangga serta pendidikan anak-anak.
  3. Isteri pemabuk, penjudi, atau melakukan kejahatan yang mengganggu ketentraman rumah tangga.
  4. Sebab-sebab lain yang berat menimpa isteri sehingga tidak memungkinkan mendirikan rumah tangga dengan damai dan teratur.

b. Sebagaimana hukumnya telah dijelaskan di atas, maka keadaan isteri akan mempengaruhi ketentuan hukum thalak.

  1. isteri dalam keadaan “syiqaq” dengan suami, dan hakim tidak berhasil mendamaikannya, maka demi kemaslahatan keduabelah pihak wajiblah thalak atas isteri tersebut.
  2. Isteri dalam keadaan selalu tidak dapat menjaga kehormatan dirinya, maka dalam keadaan demikian, disunnahkan thalak.
  3. Isteri dalam keadaan haidl atau isteri dalam keadaan suci tetapi telah diampuri dalam keadaan suci tersebut, maka haram hukumnya menjatuhkan thalak di saat itu.

thalak ditinjau dari dibolehkan rujuk

 

ditinjau dari segi boleh rujuk kembali setelah thalak, maka thalak dibagi menjadi:

a. Thalak satu dan dua itu dinamakan thalak Raj’I, yaitu thalak yang boleh si suami rujuk kembali kepada bekas isterinya dengan tiada memerlukan nikah kembali. Firman Allah:

Artinya: “thalak (yang dapat di ruju’) itu dua kali. Setelah itu boleh ruju’ kembali dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan jalan yang baik”. (Al-Baqarah: 229).

Dalam ayat tersebut Allah menerangkan bahwa thalak yang diperbolehkan ruju’ kembali hanya dua kali. Dijatuhakn satu demi satu, bukan sekaligus. Firman Allah:

 

 

Artinya: :dan perempuan-perempuan yang diceraikan itiu hendaklah mereka menunggu dengan diri mereka selama tiga Quru’. Dan tidak boleh mereka menyembunyikan kandungannya, jika betul mereka percaya kepada Allah dan hari kiamat. (Al-Baqarah: 228).

Dan Firmannya pula:

 

 

Artinya: “maka apabila iddah mereka telah sampai, maka tidaklah berdosa kamu melakukan sesuatu atas diri mereka (membiarkan berhias), menurut yang patut dan Allah selalu memperhatikan segala yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah: 234).

b. Thalak ba’in: yaitu thalak yang tidak boleh si suami ruju’ kembali kepada bekas isterinya, kecuali dengan opersyaratan tertentu.

Thalak ba’in itu ada dua macam, yaitu:

  1. thalak ba’in sughro: yaitu thalak yang dijatuhkan kepada isteri yang belum dicampuri dan thalak tebus. Dalam thalak ba’in sughro tersebut tidak boleh suami rujuk kembali kepada isterinya, akan tetapi boleh nikah kembali baik dalam mas iddah maupun sesudah iddah.
  2. Thalak ba’in kubro: ialah thalak tiga. Dalam thalak tersebut tidak boleh suami rujuk kembali kepada isterinya dan tidak boleh nikah kembali, kecuali mempunyai syarat-syarat yang ditentukan tuhan dalam surat Al-Baqarah : 230;

 

 

Artinya: “kemudian jika si suami menthalaknya (sesudah thalak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diternagkan-Nya kepada kamu yang (mau) mengetahui”. (Al-Baqarah: 230).

Syarat-syarat tersebut ialah:

  1. bekas isteri tersebut telah kawin dengan laki-laki lain.
  2. Telah bercampur dengan suami kedua.
  3. Telah diceraikan pula oleh suami yang kedua itu.
  4. Telah habis masa iddahnya dengan suami kedua tersebut.

DOWNLOAD RINGKASAN ILMU FALAK

dongkell

Halo semuanya.. Gimana kabarnya? semoga amaliyah kita selalu mendapat Ridho & Berkah-Nya. Setelah sekian lama tidak nge-post, kali ini dongkell.com akan mempotsting ringkasan-ringkasan tentang ilmu falak.

Saya bukan orang yang ahli ilmu falak, akan tetapi pernah belajar tapi gak faham-faham hehee.. siapa tahu apa yang saya posting kali ini kang-kang & neng-neng lebih bisa memahaminya.

berikut ini beberapa ringkasan Ilmu falak yang akan disajikan dalam bentuk Power Point, bisa langsung di download

  1. Pengantar ilmu Astronomi
  2. Pengantar ilmu Falak
  3. Pengantar sistem kalender
  4. Kalender Hijriyah
  5. Dasar-dasar Hisab praktis
  6. Penentuan arah kiblat
  7. Perhitungan awal bulan EPHEMERIS
  8. Perhitungan awal bulan Syawal
  9. Penentuan awal waktu Shalat
  10. Ijtima’
  11. Masalah awal bulan
  12. Masalah awal bulan Qomariyah
  13. Permasalahan Hisab
  14. Yohanes Kepler

Selamat Belajar…. Semoga Bermanfaat

CARA MEMBUAT MENU DROPDOWN DI WORDPRESS

  • Fungsi menu dalam sebuah blog adalah sebagai navigasi pengunjung dan wajib dimiliki. Khusus untuk CMS WordPress, baik yang gratis ataupun berbayar sama-sama dilengkapi manajemen menu, tapi untuk membuat dropdown menu ternyata tidak mudah.
    Itu sebabnya hari ini TRL angkat topik cara membuat dropdown menu di WordPress untuk membantu yang mengalami kesulitan.
    Mulai proses pembuatan dropdown menu dengan masuk ke dalam akun WordPress.com Anda, tutorial ini juga bisa diterapkan di hosted blog berbasis WordPress. Setelah masuk ke dalam dashboard blog, arahkan kursor mouse Anda ke menu Appearance lalu klik opsi Menus.

DONGKEL 1

Di panel sebelah kanan Anda akan temukan menu Create a new menu, klik saja link tersebut jika sudah Anda temukan.

DONGKEL 2

  • Isi kotak Menu name dengan nama menu kemudian klik Create Menu, boleh diisi dengan nama apapun sesuka Anda. Anda boleh membuat menu sebanyak mungkin, tetapi tentunya kembali lagi ke dukungan tema blog Anda. Apabila yang didukung hanya dua maka buatlah dua buah menu saja.

DONGKEL 3

  • Selanjutnya Anda akan kembali di bawa ke opsi Menus dengan pilihan pada sisi kanan adalah menu yang baru saja Anda buat, dalam hal ini adalah Menu Atas sesuai dengan nama yang saya buat. Perhatikan sisi kiri layar Anda, dan temukan pilihan halaman yang tersedia kemudian beri tanda centang. Selain halaman Anda juga bisa menambahkan kategori atau links. Jika dirasa sudah cukup klik tombol Add to Menu.
  • DONGKEL 4
  • Halaman dan kategori yang terpilih akan ditambahkan oleh sistem ke menu yang kita pilih, untuk membuat halaman menjadi dropdown menu letakkan menu tersebut di bawah menu utama dengan posisi menjorok ke dalam. Perhatikan gambar di bawah ini, halaman About dan android apk saya letakkan di bawah halaman Home, sementara halaman Uncategorized di bawah android apk. Jangan lupa mencentang lokasi menu yang Anda inginkan, karena tema yang saya gunakan hanya mendung satu posisi menu maka yang muncul hanya pilihan Primary Menu. Terakhir klik tombol Save.

DONGKEL 5

  • Sekarang coba lihat halaman depan blog Anda, arahkan kursor dan seharusnya dropdown menu akan tampi sama seperti gambar di bawah ini. Jika sudah sama berarti Anda sudah berhasil membuat dropdown menu di WordPress, jika belum coba ulangi dan pastikan langkah yang Anda lakukan sudah benar.

Setelah berhasil membuat dropdown menu, sekarang Anda sudah bisa menjawab ketika ada teman atau blogger pemula yang bertanya cara membuat dropdown menu di WordPress.

MAAFKAN KAMI “PAK JOKOWI”

joko_widodo_2014_official_portraitIndonesia adalah Negara Demokrasi, dimana seluruh warga Negara bebas mengeluarkan aspirasinya untuk kemajuan bangsa dengan tidak lupa pada sopan santun, nilai-nilai dan moral bangsa. Indonesia telah dikenal luas di mata dunia dengan budaya yang menjunjung tinggi keramahan dan sopan santun. Keramahan dan sopan santun orang Indonesia telah menjadi suatu berkah bagi bangsa Indonesia itu sendiri dimana dengan keadaan alam yang indah, menjadikan Indonesia sebagai tempat tujuan wisata turis mancanegara yang otomatis menjadikan mereka saksi akan budaya keramahan dan sopan santun masyarakat Indonesia.

Nilai budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi persaudaraan, saling menghormati, dan menghargai orang lainnya sangatlah kental. Sebagai contohnya banyak orang-orang memanggil orang lain yang lebih tua diawali dengan panggilan “PAK”. Contoh: Pak Ogah.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir budaya keramahan dan sopan santun di Indonesia mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat oleh generasi muda atau remaja yang cenderung kehilangan etika dan sopan santun terhadap teman sebaya, guru, orang yang lebih tua atau bahkan terhadap orang tua. Hal tersebut di akibatkan dari berbagai faktor seperti dari efek negatif dari media elektronik, televisi, dan jaringan internet karena dari berbagai tontonan yang dapat disaksikan menyajikan unsur-unsur kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan dalam bentuk perkataan yang melecehkan. Tentunya ini berpengaruh terhadap penonton terutama pada kalangan remaja. Contohnya kita sering mendengar berita yang memberitakan presiden dimana sang pembawa acara menyebut sang presiden dengan tanpa awalan “PAK”, mereka langsung menyebut “JOKOWI, MEGAWATI, SUHARTO, SUKARNO” dan lain-lain. Ini merupakan salah satu di antara sekian banyak contoh yang menjadi sumber bergesernya moral-moral bangsa. Padahal Bapak-Bapak presiden itu jauh lebih tua dari kita, baik secara umur maupun derajat. Namun mungkin beliau-beliau tidak mempermasalahkan hal itu akan tetapi, sangat-sangatlah tidak pantas kita sebagai yang lebih muda memanggilnya dengan “Jokowi” misalnya.

Di sini kita tidak berbicara benar atau salah, tapi kita berbicara moral/akhlak/budi pekerti yang baik. Sebagaimana disebutkan dalam Azas UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran terkait Haluan Dasar, Karakteristik Penyiaran, dan Prinsip Dasar Penyiaran di Indonesia: “Penyiaran diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan asas manfaat, adil dan merata, kepastian hukum, keamanan, keberagaman, kemitraan, ETIKA, kemandirian, kebebasan, dan tanggung jawab.” Di manakah sebenarnya etika bangsa ini yang katanya warga Indonesia terkenal keramahannya, kesopanannya, etika dan moralnya? Sungguh pertanyaan yang tidak butuh jawaban, tapi butuh kesadaran untuk memperbaiki etika dan kesopanan kepada sesama, khususnya kepada orang yang lebih tua dari kita. Maafkan kami yang tak bermoral ini “Pak Jokowi…..”

Rukun dan Syarat Rahn (Gadai)

  1. Rukun Gadai

Dalam fiqih 4 madzab (fiah al-madzahib al-arba’ah) diungkapkan rukun gadai sebagai berikut :

  1. Aqid (Orang yang berakad)

Aqid adalah orang yang melakukan akad yang meliputi 2 (dua) arah yaitu [a] Rahin (orang yang menggadaikan barangnya), dan [b] Murtahin (orang yang berpiutang dan menerima barang gadai), atau penerima gadai.

  1. Ma’qud ‘Alain (Barang yang diakadkan)

Ma’qud ‘Alain meliputi 2 (dua) hal, yaitu : [a] Marhun (Barang yang digadaikan) dan [b] Marhun bihi (dain), atau utang yang karenanya diadakan akad rahn. [1]

  1. Syarat-Syarat Gadai
  2. Ijab Kabul yaitu persetujuan penggadai dan penerima lafal gadai yakni, “Aku gadaikan barangku ini dengan harga Rp. 100.000,00”. Jawabnya, “Aku terima gadai engkau seharga Rp. 100.000,00” Untuk ini, cukuplah dilakukan dengan cara surat menyurat saja.
  3. Jangan menyusahkan dan merugikan orang yang menerima gadai.

Contoh : orang yang menggadaikan tidak boleh menjual barang yang digadaikan setelah jatuh tempo, sedangkan penerima gadai sangat memerlukan uang.

  1. Jangan merugikan orang yang menggadai.

Contoh : dengan mensyaratkan bahwa barang yang digadaikan itu boleh dipakai dan diambil keuntungannya oleh orang yang menerima gadai.

  1. Ada Rahin (yang menggadai) dan Murtahin (orang yang menerima gadai) ahli maka tidaklah boleh wali menggadaikan harta anak kecil.

Contoh : anak yatim, harta orang gila, harta orang lain yang ada
di tangannya.

  1. Barang yang digadaikan itu berupa benda, maka tidaklah boleh menggadaikan utang.

Contoh : Si Rahin berkata, “Berilah saya dahulu sebanyak
Rp. 100.000,00 dan saya gadaikan piutang saya kepada Tuan sebanyak Rp. 150.000,00 yang sekarang ada di tangan si Badu.” Hal ini karena utang-utang itu belum tentu dapat diserahkan pada waktu tertentu.

Barang-barang yang digadaikan itu hendaklah sama harganya dengan banyak uang yang diutang (dipinjam), atau lebih kurang menurut harga biasa. Barang yang telah digadaikan itu boleh dijual pada waktu yang telah ditentukan bila penggadai belum melunasi utangnya. Dalam hal ini, hendaklah yang mempunyai barang itu sendiri yang menjualnya atau wakilnya atau izin orang yang menerima gadaian.

[1] Ali Zainuddin, Hukum Gadai Syariah (Jakarta, Sinar Grafika, 2008) hlm. 20

Pembagian dan Hukum Ijarah (Sewa Menyewa)

Ijarah terbagi dua yaitu Ijarah terhadap benda atau sewa menyewa, dan Ijarah atas pekerjaan atau upah mengupah.
1. Hukum Sewa Menyewa
Dibolehkan Ijarah atas barang mubah, seperti rumah, kamar, dan lain-lain. Tetapi dilarang Ijarah terhadap benda yang diharamkan.
a. Cara memanfaatkan barang sewaan
1. Sewa Rumah
Jika seseorang menyewa rumah, dibolehkan untuk memanfaatkannya sesuai kemauannya, baik dimanfaatkan sendiri atau dengan orang lain, bahkan boleh disewakan lagi atau dipinjamkan pada orang lain.
2. Sewa Tanah
Sewa tanah diharuskan untuk menjelaskan tanaman apa yang akan ditanam atau bangunan apa yang akan didirikan diatasnya, jika tidak dijelaskan Ijarah dipandang rusak.
3. Sewa Kendaraan
Dalam menyewa kendaraan, baik hewan atau kendaraan lainnya harus dijelaskan salah satu diantara dua hal, yaitu waktu dan tempat, juga harus dijelaskan barang yang akan dibawa atau benda yang akan diangkut.
Musta’jir dibolehkan menyewakan lagi barang sewaan kepada orang lain dengan syarat penggunaan barang itu sesuai dengan penggunaan yang dijanjikan ketika akad. Harga penyewaan yang kedua ini bebas-bebas saja, dalam arti boleh lebih besar, lebih kecil atau sumbang.
2. Hukum upah mengupah
Upah mengupah atau Ijarah ‘ala al-a’aml yakni jual beli jasa, biasanya berlaku dalam beberapa hal seperti menjahitkan pakaian, membangun rumah, dan lain-lain. Ijarah ‘ala al-a’mal terbagi dua, yaitu :
a. Ijarah Khusus
Yaitu Ijarah yang dilakukan oleh seorang pekerja. Hukumnya orang yang bekerja tidak boleh bekerja selain dengan orang yang telah memberinya upah
b. Ijarah Musytarik
Yaitu Ijarah dilakukan secara bersama-sama atau melalui kerjasama. Hukumnya dibolehkan bekerjasama dengan orang lain.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.